Jumat, 18 April 2014

Detik - Detik Perpisahan Pesantren Yang Tak Terlupakan ...

Koleksi Pribadi: Area Asrama Putri dan Masjid DDI Lil-Banat ParePare
Jarak tempuh 155 km dari pusat kota Makassar sama sekali tidak menyurutkan semangatku untuk tetap melanjutkan pendidikan Aliyah sederajat tepatnya tahun 1999-2000. Dimana lagi kalau bukan Pondok Pesantren DDI Lil-Banat, Parepare, Sulawesi Selatan. Keputusan yang sangat matang bagi saya sebagai remaja usia 14 tahun sangat jarang dimiliki oleh remaja lain pada masanya. Pilihan aneh dan ketinggalan jaman untuk memilih Pesantren sebagai pilihan utama ditengah-tengah menjamurnya sekolah negeri ternama dan terfavorit di ibukota Indonesia Timur.

Tidak mengapa, orangtua dan kerabat lain pun tidak keberatan dengan pilihan saya untuk lebih mandiri dan berani hidup terpisah dalam jangka waktu selama 3 tahun. Justru dengan alternatif inilah orangtua dan kerabat mengaku bangga dan bersyukur karena pilihan anak perempuannya sejalan dengan harapan mereka sendiri.

Bukan karena faktor nakal, bodoh, atau pemalas yang menjadikan orangtua ingin menyekolahkan anak-anaknya di Pondok Pesantren. Selama ini Pondok Pesantren memang lebih dikenal dengan istilah pelarian bagi anak-anak remaja yang berada dibawah standar rata-rata, dimana emosional dan perilaku masih sangat labil. 

Mungkin karena peraturan dan tata tertib yang berlaku di dalam lingkungan Pondok Pesantren kerapkali dicap sebagai wadah yang tepat untuk menampung dan menggembleng remaja nakal, bodoh, dan sebagainya. Bahkan tak sedikit pula orang tua santri yang mengharap lebih agar anak-anak mereka menjadi pribadi yang sholeh/sholehah layaknya orang suci di negeri Arab, misalnya.

Koleksi Pribadi: Masjid DDI Lil-Banat ParePare
Dimasjid ini,selain sholat berjama'ah, saya dan ribuan santriwati lainnya melaksanakan rutinitas pengajian sehabis sholat Shubuh dan Maghrib yang dibina langsung oleh beberapa ustadz dan ustadzah sesuai bidang pengajarannya. Setiap malam Jum'at, setelah sholat Maghrib berjama'ah kami membaca surah Yaasin dan Waqi'ah, dilanjutkan dengan latihan Dakwah sehabis sholat Isya secara bergiliran. Rutinitas kegiatan keagamaan yang sangat wajib hukumnya untuk ditaati bagi yang berstatus santriwati disebuah Pesantren.

Koleksi Pribadi: Ruang Kelas MA DDI Lil-Banat ParePare
Ya, di Pondok Pesantren inilah saya menghabiskan waktu selama 3 tahun, 1999-2003. Ada senyum, tawa, sedih, duka, dan airmata yang saya rasakan ketika harus melalui berbagai macam kejadian. Mulai dari satu kamar asrama bersama 15 - 20 orang teman lainnya dengan karakter remaja yang berbeda-beda. Bisa dibayangkan suasananya seperti apa. Silahkan membayangkannya sendiri...hehehe.

Hingga belajar, makan, memasak, mencuci, dan tidur bersama dari pagi sampai menjelang pagi lagi. Bertemu di kamar asrama, di masjid, di ruang kelas, di laboratorium, di perpustakaan, di lapangan bahkan di tempat mandi sekalipun... lagi-lagi bertemu dengan orang yang sama setiap harinya, 3 tahun, Kawan! Bosan? hemm, nggak tuh!
Koleksi Pribadi: AULA DDI Lil-Banat, ParePare
Hari demi hari telah saya lalui, tak terasa hampir 3 tahun saya bermukim di Pondok Pesantren ini. Harapan pulang kampung hanya terkabul jika musim Ramadhan telah tiba atau pun hari libur besar lainnya seperti liburan setelah ujian per semester telah usai. Wuiiih, senangnya bukan main. Udara bebas dapat kembali dihirup sepuas-puasnya. Rasa kangen sama orang tua dan kerabat tak terbendung lagi. Walau hanya 2 minggu, saya termasuk santriwati yang tak ingin ketinggalan moment indah yang paling ditunggu-tunggu... pulang kampung! eeehh... pulang kota!!! hehehe.

Koleksi Pribadi: Perpustakaan DDI Lil-Banat ParePare
Lihatlah, Kawan! Saya tidak hanya mendapat siraman ruhani dari Pesantren ini, tapi juga ilmu dunia [baca:Sains/ MIPA]. Jurusan yang saya pilih sejak kali pertama mendaftarkan diri di Pesantren ini. Sangatlah jelas bahwa Pesantren itu bukanlah sekolah yang Ndeso atau ketinggalan jaman. Perlu kalian ketahui, di Pesantren ini hanya ada dua jurusan yang tersedia khusus santri Madrasah Aliyah. Yaitu Umum [MIPA] dan Keagamaan.

Nah, setelah menimbang-nimbang selama 10 menit didepan guru penguji, akhirnya keputusan saya jatuh pada jurusan kelas Umum [MIPA]. Mengapa? karena saya ingin memasuki semua ruang. Ruang Laboratorium MIPA untuk praktikum, Ruang Perpustakaan, dan Masjid yang secara rutin diadakan pengkajian Kitab Gundul. Jika saya memilih jurusan Keagamaan, maka selama 3 tahun itu sudah dapat dipastikan saya tidak akan mendapatkan ilmu Sains/ MIPA, otomatis saya juga tidak bakalan bisa masuk ke dalam laboratorium. Cukup jelas, bukan?

Sebuah lembaga pendidikan yang telah memberi keseimbangan antara ilmu ukhrawi dan duniawi. Itulah keutamaan manifestasi ilmu yang sebenar-benarnya yang telah saya raih selama 3 tahun di sini. Dan apa yang saya uraikan adalah hanya sebagian kecilnya saja. sangat singkat, padat dan jelas. Menurutku sih begitu. Saya mendapat ilmu Sains juga ilmu Keagamaan. Sempurna!

Koleksi Pribadi: Ruang Laboratorium IPA MA DDI Lil-Banat ParePare ~ [tengah] Hasil Karyaku
Menggali skill atau keahlian bidang jahit-menjahit telah memberi nilai plus bagi saya dan teman-teman untuk berkarya demi pengembangan diri. Awalnya saya tidak begitu memahami visi dan misi diadakannya ektrakurikuler ini selama setahun terakhir di jenjang Aliyah. Saya jalanin saja apa adanya. Tapi bukan tanpa alasan pula mengapa saya memilih jurusan Tata Busana bukan jurusan Tata Boga.

Ya, karena sejak SD dulu saya sudah terlatih menjahit baju yang sobek ataupun memasang kancing baju sekolah yang terlepas. Tentu saja cara menjahit tangan dengan arahan dari Mama yang notabene adalah keahliannya juga. Benar kata pepatah, Bagaikan buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya... itulah saya!.

Koleksi Pribadi: Ruang Keterampilan Menjahit DDI Lil-Banat ParePare
Masa-masa indah yang tak terlupakan adalah masa-masa remaja di bangku sekolah. Masa-masa sekolah di Pondok Pesantren pun membuat saya haus akan prestasi lainnya. Segudang kegiatan individu dan berkelompok saya lakukan dengan senang hati dan penuh percaya diri. Berkat kekompakan yang terbentuk dari tim kami saat itu, semangat perjuangan makin mengalir dengan derasnya, akhirnya keberuntungan kami raih dengan baik dan membanggakan diantara tim lawan yang lain. Juara Umum Porseni antarkelas. Sungguh mengharukan...!

Koleksi Pribadi: Juara Umum Porseni 2003 (Pialanya saya pegang)
Dimana ada pertemuan, disitu pula ada perpisahan. Kalimat pepatah tersebut benar adanya menghinggapi pikiran saya menjelang hari-hari terakhir yang menegangkan dan paling berkesan selama hidup saya... Perpisahan!

Koleksi Pribadi: Detik-Detik Perpisahan MA DDI Lil-Banat ParePare
Perpisahan yang membuat langkah kaki saya semakin berat untuk melangkah keluar meninggalkan area Pondok Pesantren, Perpisahan untuk selamanya dan tidak akan berulang-ulang. Perpisahan meninggalkan banyak kenangan indah. Moment-moment kerinduan dan kehangatan yang tiada tara. Segenap rasa yang tak lekang oleh waktu dan tak terbatas oleh ruang. Ya, Perpisahan itu sungguh membuat saya sangat sedih harus berpisah dengan jiwa-jiwa yang telah mengisi kekosongan separuh jiwaku. Saya bahagia karena perpisahan ini adalah bukti kemampuan saya melewati perjalanan panjang penuh bunga dan duri. Sebuah jembatan penghubung yang mempersatukan perjalanan ruhani dan lahiriah saya sebagai manusia biasa. Sekali lagi, menuntut ilmu di kampung orang adalah rumah persinggahan saya yang pertama dan terakhir... Pondok Pesantren!

Koleksi Pribadi: Penyerahan Kalung dan Piagam Penghargaan (Saya)
Perpisahan yang banyak mengajarkan saya ilmu kedisiplinan, tanggungjawab, kejujuran, keuletan, kebijaksanaan, kebersamaan, dan kekeluargaan. Sebelas tahun sudah berlalu saya berpisah dengan Pondok Pesantren ini. Tak ada yang dapat kupersembahkan kecuali untaian do'a yang terus mengalir dari relung hatiku yang paling dalam.

Koleksi Pribadi: Detik-Detik Terakhir di Pesantren (berpose depan Asrama)
Saya pun hanya bisa berkontribusi lewat tulisan sederhana ini mengenai moment tak terlupakan selama di Pesantren. Tulisan sebagai pelepas seribu rindu keabadian. Karena saya bangga menjadi [alumni] santriwati sebuah Pondok Pesantren. ^_^

Makassar, 18 April 2014

Salam Aida

6 komentar:

  1. Terima kasih telah mengikuti Giveaway 3 "A Moment in Pesantren", ditunggu karya-karya inspiratif lainnya ya. :)

    Salam damai,

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, makasih banyak atas kesempatannya Mak Damae :D
    salam kembali, Aida.

    BalasHapus
  3. Haru rasa di dada, haru mengintip kenangan, haru bertaut bangga, haru rasakan syukur. Haru munculkan harapan
    Semoga almuni p_trenddi parpare yg lain dapat merasakan dan berbagi kisah melalui tulisan sederhana namun menyentuh kalbu.
    Selamat berkarya.....
    Iful

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terharu,,, akhirnya Pak Guru menyempatkan diri berkunjung dan meninggalkan jejaknya di sini. Makasi banyak ya Pak, semoga yang lainnya juga bersedia menuliskannya dalam bentuk yang berbeda dan semakin menarik :D

      Hapus
  4. saya juga ikut terharu membaca artikel ini apalg saat melihat foto2 x Bapak...awalnya saya bertanya2 siapa ya Aida Maruf ini???ternyata FAIDAH FATAH.....semoga sukses yah dek moga tulisanx bsa menjadi inspirasi bagi kita semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye kanda, turut terharu dan mengenang terus sosok beliau :)
      eh? barukali ini ada yang penasaran dengan namaku, wah ketahuan deh... makasi udah mampir kanda. aamiiin semoga bermanfaat bagi yang lain :D

      Hapus