Rabu, 01 Oktober 2014

Pak Pos Yang Baik Hati ^_^



Lelah habis bersih-bersih rumah seharian, membaca buku yang tebalnya empat ratusan halaman belum juga tuntas sampai hari ini, ditambah lagi kuota internet yang kurang bersahabat dan kangen berselancar ria di medsos membuat saya leyeh leyeh di kamar sampai tertidur pulas di siang hari. 
  
Cuaca panas yang selalu bikin gerah pun turut membuat saya malas sekali untuk bangun tidur. Sekilas mataku terbuka memastikan sekarang jam berapa, perut sudah mulai keroncongan tak lagi kuhiraukan. Rasa kantuk ini masih saja memanjakan mataku untuk melanjutkan tidur walau tak nyenyak.  

Menit-menit berlalu… 

Saya terkaget, gagang pintu bergerak, pintu kamar terbuka sedikit, saya tahu itu pasti bapak. Sepertinya bapak ingin mengecek apakah saya masih tidur atau lagi ngapain di kamar.  

Ternyata ada yang mencari saya diluar. 

“Da, ada Pak Pos yang mencarimu diluar…”  

“Nomor hapemu berapa,Pak Pos mau tahu…” tanya bapak tanpa basa basi. 

Dengan mata yang setengah terbuka, mulut menguap dengan puas, nafas diatur pelan-pelan supaya kepala terkendali dari rasa pusing, saya paksa badan ini bangkit dari kasur pembaringan sambil mencari dimana kerudung biru pemberian senior saya sewaktu masih kuliah dulu.  

“Hapeku rusak, Pak…” jawabku sambil menahan kantuk dan memasang kerudung biru dikepala yang tak saya pedulikan lagi kerapiannya. 

Keluar dari kamar, ternyata Pak Pos sudah berdiri di depan pintu rumah, langsung kututup muka sambil mengucek-ngucek mata, lagi-lagi saya berusaha menahan nguapan mulut, gagal, tak berpikir lama, saya memutar badan kembali ke kamar, mengambil sesuatu dimeja, bercermin, dan melap muka pake telapak tangan. Tak ada waktu untuk ke kamar mandi untuk cuci muka, kasihan Pak Posnya menunggu lama diluar rumah. Saya membatin.  

“Hape saya rusak Pak Pos …” 

“Sebutkan saja nomor hapenya” teriak Bapak dari belakang   
“Kosong delapan lima tiga sembilan sembilan kosong empat enam bla bla blaaaaa…”  

“Yup, nomornya betul.” potong Pak Pos sebelum saya selesai menyebutkan nomor hape. 

Sebuah amplop putih disodorkan ke saya. Sempat bingung dan bertanya-tanya. Ini apaan ya? Siapa yang kirim? Sepertinya tak pernah ada mengkonfirmasi kiriman seperti ini untuk saya, Pak. 

Pak pos hanya tersenyum manis, tak berkomentar, sibuk dengan kantong barang yang ada dimotornya. 

Yang namanya orang baru bangun tidur, pikiran jadi tidak fokus dan tidak konsentrasi. Saya lihat tulisannya cantik sekali, rapi, saya bolak balik amplopnya, berharap ada nama si pengirim. 

Dan Masya Allaaahhh… Ummi Raidah Athirah… 

 

Satu detik dua detik, mata saya langsung terbangun dari rasa kantuk, ingatan di memori otak langsung mengembara pada obrolan di inbox facebook beberapa waktu yang lalu… nafasku terhenti… 

“Ini kan kiriman dari Polandia, Pak, Norwegia…!” 

“Hehe iya, sudah empat bulan.” 

“Dari luar negeri? Jauhnyaaaa dikirm kesini…” tanya Bapak terheran-heran tanpa perlu dijawab, tiba-tiba ikut berkomentar dari samping belakang saya 

“Ini sejak bulan Ramadhan lho…” 

“Dapat dimana?” tambah saya yang terus bertanya-tanya pada Pak Pos 

“Di rak-rak lemari dikantor saya, Dek.” 

“Pak Pos tahu nggak sih, barang ini yang saya cari-cari di kantor Pos, tapi nggak ketemu. Saya di suruh ke kantor Pos A, B, dan C. Tapi saya tak sanggup untuk mengeceknya lagi karena jarak yang jauh dan cuaca sangat panas.” 

“Barangnya selalu saya bawa kemana-mana. Saya simpan baik-baik. Dulu saya antar ke alamat ini, tapi nggak ada yang kenal dek Aida, nomornya hapenya juga nggak aktif. Sudah berulang kali, barang ini pindah zona Pos. Akhirnya jatuh ke tangan saya.” Jelas Pak Pos meyakinkan saya 

“Lho? Padahal kurir-kurir pengiriman barang yang lain sering kok ke sini ngantar kiriman.” Saya membela diri   

“Oya? hemm” Pak Pos hanya bergumam  

“Iya, Barusan Aida dapat kiriman hadiah juga dari Bandung…”  sambung bapak yang sedari tadi berdiri disamping saya memberi dukungan karena bangga saya selalu mendapat kiriman. 

“Hapeku memang nggak aktif, udah rusak baru dua minggu terakhir ini…” Saya mengiyakan kalo memang hape saya susah dihubungi .

Sebuah kotak putih pun kemudian dikeluarkan lagi dari kantong barang pak pos. 

“Masih ada lagi, Pak?” 

“Iya, ini…” 


“Eh, itu isinya gelas mug…” spontan saya menebak isi kotak putih  

Saya memang tahu isinya sebuah gelas mug. Sekitar tiga hari yang lalu, saya suka berkomentar di status teman-teman maya di facebook. Awalnya memberi selamatan karena hadiahnya yang kece-kece, eh malah ditawarin salah satu hadiahnya. 

Nah, gelas mug inilah yang menjadi pembicaraan selanjutnya di inbox dan menggerakkan hati mak Wiwiek untuk memberikannya kepada saya karena kebetulan Mug Bapak saya jatuh dari tangannya di dapur, pecah. 

Kupikir mak Wiwiek bercanda karena saya juga bercanda kepengen mug kalo ditawarin, ternyata situasi berubah jadi serius dan sekarang mugnya udah saya berikan ke Bapak. Alhamdulillah Bapak senyum bahagia dan senang sekali mendapat ganti mugnya yang pecah.  

“Iya betul, sebenarnya barang ini diperdebatkan dikantor tadi pagi…” Tegas Pak Pos sambil menunduk berusaha menyembunyikan ekspresi perhatiannya pada barang kiriman saya. 

“Hah? Emang kenapa?” saya kembali heran dan kaget 

“Ya karena itu tadi, tak dikenal dan hape tak nyambung. Teman-teman dikantor tak mau melayani barang yang tak jelas nama, alamat dan nomor hape yang bersangkutan.” 

Hemm... 

“Barangnya hampir dikembalikan kealamat pengirim, termasuk amplop yang itu..” tambah Pak Pos  

“Eh, jangan dikembalikan. Kasihan teman saya disana (Ummi Raidah dan Mak Wiwiek). Udah kecewa karena kirimannya nggak sampai pada target waktu yang ditentukan.”  

“Apa jadinya bila barangnya dikembalikan lagi, bisa-bisa saya kehilangan kepercayaan lho” Saya membatin dalam hati 

“Iya, maka dari itulah saya berani mempertahankan pendapat dan mempertanggungjawabkan barang ini untuk sampai di tangan yang bersangkutan.” 

“Silahkan tanda tangan disini!” Pak Pos langsung menyodorkan sebuah kertas bukti penerimaan barang dan balpoin. 

“Tanda tangan dulu, Da.!” Lagi-lagi bapak yang ternyata masih ada dibelakang saya. 

“Iya, dimana? Disini ya? Oke”
Hening dan puas. Saya langsung mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Pos lalu meninggalkannya di halaman rumah. 

Terima kasih banyak ya, Pak Pos” 

“Iya, sama-sama Dek” 

Saya masuk kedalam kamar menyalakan laptop. Membuka bingkisan barang kiriman. Penasaran, saya pun mengintip lewat jendela kamar, ah, Bapak, ternyata masih ngobrol sama Pak Pos itu.  

Perasaanku campur aduk. Ingin rasanya menelpon Ummi Raidah untuk mengabarkan kirimannya selamat sampai ditujuan, tapi tak ada nomor kontak yang dititipkan ke saya. Lagi pula, mana bisa saya menelpon, hape sudah rusak kok. Hehehe.  

Subhanallah, Allah Kariim. Semua skenario terbaik dari Allah swt.  Ternyata masih ada orang yang berbaik hati disekitar saya. Padahal jika dipikir-pikir, barang kiriman yang sudah lewat tenggat waktunya dan tidak sampai di alamat tujuan, maka barang tersebut akan dikembalikan ke si pengirim. Lha, ini, hanya sebuah amplop sederhana, isinya juga cuman empat kartu pos, kok bela-belain mau menyimpannya dan berusaha untuk membawakannya untuk saya, ya? 

Husss…. Jangan mikir yang macem-macem…  

Yang jelas, permasalahannya adalah bukan pada seberapa besar ukuran barang kiriman ini. Tapi sudah seharusnya kita menjaga amanah dari kewajiban yang telah diberikan oleh orang lain. Semisal Pak Pos yang komitmen pada amanahnya untuk tetap menjaga dan menyampaikan barang pada alamat tujuan walau masa tenggatnya sudah terlampau lewat. 

Kedua, secara pribadi, penting bagi saya untuk menghargai pemberian teman apapun bentuknya. Mensyukurinya dan mengabadikannya di folder koleksi foto di laptop. Menguploadnya di media sosial. Dan rencana akan saya abadikan juga dalam bingkai foto. Gambar kartu posnya indah sekali, berhubung Ummi Raidah ini gemar memotret keindahan alam di kampung suami tercintanya di Norwegia.  

Berkat kiriman mug cantik dalam kotak putih dari mak Wiwiek pula, Pak Pos semakin yakin bahwa saya benar-benar nyata bertempat tinggal dialamat yang sama tertera pada kemasan barang yang ada. Dari kotak putih itu pula, amplop dari Ummi Raidah tak jadi dikembalikan ke Norwegia. 

Alhamdulillah. Salut dan bangga untuk Pak Pos yang baik hati. 

Teruntuk Pak Pos yang baik hati dan ganteng… hahaha 

Saya Aida, hanya bisa mendoakan: 

Jika Pak Pos yang bersangkutan sudah berkeluarga, semoga istri dan anak-anaknya selalu diberkahi dan dilindungi oleh Allah swt. Rejekinya lancar. Menjadi keluarga yang samara. Selamat dunia dan akhirat. Aaamiin. 

Semoga jabatannya di Kantor Pos Indonesia mendapat mandat yang lebih tinggi dari sebelumnya, gaji dinaikkan, hala dan berkah, dan menjadi tauladan yang baik dimana saja. Aaamiiin. 

Jika belum berkeluarga, moga-moga dalam waktu yang dekat ini segera dipertemukan jodoh pilihannya yang sholeh, cantik, baik, amanah, dan sebagainya. Aaamiin.  

Saya kok kepikiran terus ya sama si Pak Pos baik hati itu. Inikah yang namanya cinta pandangan pertama? wkwkwk ^_^

Terima Kasih kepada: 

Ummi Raidah Athirah atas empat kartu pos kenang-kenangannya. Mungkin kartu pos ini sudah diperuntukkan sebagai ucapan Hari Raya Idul Adha. Jujur, gambarnya saya suka sekali, menambah keimanan saya kepada Kuasa Ciptaan Allah swt yang Maha Indah dan Maha Kreatif.

Mak Wiwiek atas kiriman sebuah Mug putih nan cantik yang sebenarnya adalah hadiah hiburan untuk mak sendiri dari writer's gathering 2014. Saya hanya bercanda mak, tapi keinget sama Bapak, akhirnya ngarep juga. hehehe. 

Makassar, Selasa siang, 30 September 2014.
Aida

8 komentar:

  1. alhamdulillah... pak pos bakal sering ke rumah nih... bentar lagi dapet kiriman hape biar sering ditelepon pak pos ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... aaamiiin moga-moga dapat hape baru.. horeee :))

      Hapus
  2. Itu namanya sudah rejeki mak Aida. Mau gimanapun dan kapanpun caranya kalo udah rejeki tak akan lari..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya mak Kania, baru nyadar ternyata rejeki nggak bakalan kemana juga :)) makasih nasehatnya. Alhamdulillah

      Hapus
  3. Pak Posnya baik banget Kak... wah Kakak udah punya bukunya Mbak Raidah yaa??? pengen banget punya buku itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dek, nggak nyangka banget ada pak pos sebaik itu...
      saya belum punya bukunya Ummi Raidah, pengen juga sih sebenarnya, tapi nabung dulu.. :))

      Hapus
  4. huwaaa,,,keren,,,,rezeki ya,,,,aku mau juga kartu posnya mbak,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya mak Dwi, Alhamdulillah. makasih ya :))

      Hapus