Senin, 28 Maret 2016

Menjelang Kematian, Mau Ngapain Aja?

http://dnamora.com/2016/03/dnamora-giveaway-8-hari-menuju-kematian/


Assalamu 'alaikum


“Innalillaahi wa inna ilaihi roji’un. Mohon maaf, saya lagi di kampung, meninggal Bapak saya.” 

Seketika jantung nafasku terhenti sejenak. Ekspresi mukaku spontan menjadi sayu, dua alis mataku mengernyit, sekali lagi kukedip mataku untuk membaca ulang sms yang barusan muncul dilayar hape. Ini bukan kali pertama saya mendapat kabar duka lewat sms atau telpon.

Astaghfirullah, inna lillaahi wa inna ilaihi rojiun, saya turut berduka cita, yang sabar yah, moga almarhum Bapaknya diterima disisi Allah swt, diampuni segala dosanya, dan dimudahkan urusannya di alam kubur. Aamiin.

Begitu kurang lebih saya langsung merespon balik sms kak Bahar. Yup, kak Bahar tidak lain adalah seorang guru ngaji yang aktif di masjid dekat rumah. Selang seminggu sebelumnya, saya barusan bertemu dengannya disuatu tempat, ngobrol lepas, sharing persoalan keluarga dan rutinitas lainnya. Dari sederet obrolan, ada satu obrolan yang mengarah kepada sosok seorang Bapak. Ternyata selama ini kak Bahar tahu banyak tentang kehidupan saya yang sangat diperhatikan dan dijaga oleh Bapak saya sendiri. Bahkan saya sendiri seorang anak perempuan, terkadang kurang menyadari hal itu. Obrolan singkat namun berkesan tersebut, membuat saya seolah dinasehati kak Bahar agar meningkatkan bakti kepada orangtua. Entahlah, saya tidak pernah kepikiran mengapa kak Bahar sampai membahas perihal Bapak. Sampai berpisah diujung obrolan, saya sampai lupa menanyakan kabar orang tua kak Bahar, tentang keluarga kecilnya, dan aktivitas lainnya.

Kabar duka yang barusan saya terima dari kak Bahar membuat saya kembali merenung. Ditengah obrolan, kak Bahar seringkali menanyakan soal pekerjaan saya. Namun saya selalu terdiam dan menggeleng kepala sebagai isyarat bahwa saya tidak ada pekerjaan tetap, saat ini masih mencari kerja kantoran lain. Saya hanya bilang kepada kak Bahar, bahwa kita tidak tahu apa yang bakal menimpa kita esok hari, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, umur kita, rejeki kita, orang-orang disekeliling kita, kita benar-benar tidak pernah tahu.

Saat ini saya hanya bisa berbuat apa yang bisa saya lakukan. Semisal membantu teman-teman saya yang membutuhkan bantuan. Ketika ada satu teman yang sms atau menelpon memanggil saya ke rumahnya, seketika itu saya berusaha meluangkan waktu untuknya, mendengar curahan hatinya, dan membantunya mencari solusi terbaik dari problem yang dihadapinya. Walaupun saya sendiri memiliki problem yang beragam. Setidaknya sebagai teman dan manusia biasa, saya bisa bermanfaat untuknya dan mengambil hikmah dari cerita kehidupannya. Dengan begitu saya berkeyakinan bahwa insya Allah urusan saya juga akan dimudahkan Allah jika saya membantu orang lain. Selagi ada waktu luang, saya membantu apa saja yang bisa saya bantukan, baik itu dari segi materiil maupun non-materiil. Itulah pekerjaan saya sekarang. Kak Bahar hanya terdiam, tersenyum, dan turut merenung.

Berhubung saya yang sudah menginjak angka 31 tepat di bulan Februari tahun 2016 ini, saya merasakan betapa Allah swt sudah memberi saya banyak nikmat karunia yang tak terhingga. Tadabburku, tidak semua orang bisa memasuki umur 30-an. Sudah banyak anak-anak muda disekitar kita yang umurnya belasan hingga 20-an telah mendahului kita menghadapi kematiannya. Saya yang sudah berusia 30-an tahun juga semakin dihantui beragam peristiwa kematian yang serba mendadak dan misterius. Dari banyaknya peristiwa yang saya saksikan baik dilingkungan sendiri, lewat sosial media ataupun pemberitaan televisi, membuat saya semakin banyak menyesali perbuatan yang telah berlalu, telah banyak menyakiti perasaan orang lain terkhusus orang tua sendiri, dan membuang-buang banyak waktu dengan sia-sia.

Lihatlah, ketika seorang alim ulama meninggal dunia, Allah swt mempelihatkan kekuasaan-Nya kepada kita, betapa banyaknya masyarakat yang merasa kehilangan, larut dalam kesedihan yang mendalam, melayat hingga ke tempat penguburan.

Foto Uje. Mau Meninggal seperti ini?

Saksikanlah, sudah terjadi kecelakaan maut di darat, di laut, maupun di udara yang mana dalam peristiwa tersebut ditemukan korban tewas yang berasal dari umur, status, dan kalangan yang berbeda.

Sekali lagi...

Renungkanlah bahwa kematian itu sungguh sangat misterius dan sangat dirahasiakan oleh Allah swt. Tak satupun penghuni di dunia maupun di langit yang mengetahui kapan ajal kita akan tiba waktunya. Allas swt benar-benar sengaja merahasiakan waktu kematian kita dengan tujuan untuk menguji keimanan dan memancing kita untuk terus meningkatkan amal ibadah didunia demi mencapai kehidupan yang lebih kekal di akhirat nanti.

Saking misteriusnya soal kematian ini, saya kembali berkaca diri. Sudah cukupkah amalan ibadah yang sudah saya lakukan selama ini? Sudah termaafkan-kah kesalahan yang pernah saya perbuat kepada orang lain? Sudah lunaskah urusan utang-pituang yang sempat melilit kehidupan saya? Apakah dijamin halal 100 persen semua makanan dan minuman yang masuk kedalam perut saya? Pakaian dan tata rias yang saya pakai, apakah tidak menimbulkan fitnah diluar sana? Sampai pikiran akal sehat saya, apakah sudah jauh dari sifat prasangka buruk dan pikiran kotor lainnya? Lalu hati dan lisan saya, apakah rutin berdzikir setiap waktu? Bagaimana pula dengan aurat saya kadang masih terlihat oleh kaum adam non-muhrim, baik itu disengaja maupun tidak disengaja? Kemana uang yang selama ini saya dapatkan, dibelanjakan untuk kebutuhan duniawi atau ukhrawi? Sudah berapa kali saya berbohong, pamer dan sombong kepada orang lain walau itu dianggap kecil dan bercanda?

Astaghfirullaah wa atuubu ilaih... Ya Allah... Astagfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah..

Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang entah apa jawabannya yang sering berkecamuk di benak. Dikatakan dalam sebuah syair, “Barangsiapa menginginkan nasehat, cukuplah kematian itu sebagai nasehat.” 

Saya yakin, kalian akan merasakan hal yang sama jika merenungi sebuah kematian. Tulang-tulang akan berasa remuk, hancur, dan tidak berdaya. Kita benar-benar kecil didunia ini, sama sekali tidak punya apa-apa yang bisa dipamerkan apalagi disombongkan, pelit berbagi, dan merasa semua yang kita capai adalah berkat kerja keras kita semata. Padahal ada Allah swt yang Maha Memiliki, Maha Menguasai, dan Maha Menciptakan apa yang ada didiri kita dan seluruh alam.

Saya sudah beberapa kali mendapat kabar duka dari kerabat dan teman-teman. Terkadang ketika mendapat kabar duka seperti itu, saya seolah tak percaya dan mengharap kabar duka tersebut tidaklah nyata. Bagaimana tidak, orang yang baru saja dikabarkan meninggal, baru saja saya bertemu dengannya dalam keadaan sehat, masih sempat bercanda, dan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Beberapa diantara mereka yang sudah meninggal juga lumayan akrab dengan saya.

Saya masih ingat kejadiannya sekitar lima tahun lalu. Saya akrab dengan kakak dari salah seorang teman saya. Selama saya dekat dengan almarhumah, saya seringkali diminta untuk memijat kepalanya yang selalu kesakitan karena kelelahan sepulang kerja. Seiring waktu, ketika saya bertemu dengan teman tersebut, spontan saja saya kaget dimarahi dan diberi kabar duka. Saya dimarahi karena mendadak hilang kontak. Sudah pasti saya bingung balik bertanya bahwa kenapa tidak menjumpai saya di rumah. Menyadari ini sudah menjadi takdir, kami pun saling memaklumi dan terdiam. Teman saya lalu berkata betapa kehadiran saya sangat dibutuhkan beberapa hari menjelang kematian sang kakak tersebut. Almarhumah selalu mencari diri saya untuk meminta bantuan, memijat kepala dan badannya yang semakin pegal.

Airmata berupaya saya tahan agar tidak menetes ketika mendengar cerita teman tentang detik-detik kematian kakaknya. Disatu sisi, saya merasa terhormat karena saya masih diingat diujung kematian tapi tetap menyesalinya karena terhalang oleh nomor kontak yang hilang. Disisi lain, tentu saja saya sangat berduka karena kehilangan seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri.

Satu kisah kematian diantara banyak kisah lainnya yang benar-benar melibatkan diri saya merupakan pembelajaran berharga untuk diri saya pribadi. Orang-orang yang pernah saya ajak ngobrol, bercanda, meminta bantuan, jalan bersama, sungguh akan terasa hampa ketika mereka sudah tidak ada lagi bersama saya untuk selama-lamanya. Ada banyak penyesalan yang hinggap dilubuk hati terdalam, selama hidup mereka, belum sekali dua kali saya pernah membalas kebaikan yang pernah mereka berikan kepada saya. Itulah mengapa saat ini saya lebih cenderung mencari jalan untuk berbagi kepada orang lain, semampu saya dan sekuat tenaga saya. Jika satu jalan tertutup, saya yakin masih banyak jalan lain yang terbuka, berbagi kebaikan lewat tulisan inspirasi, saling mengingatkan via sosmed, atau berinteraksi langsung dengan masyarakat luar untuk mengajak mereka menunaikan zakat, infak, dan sedekahnya lewat lembaga sosial setempat.

Delapan Hari Menuju Kematian?

Jangankan diberi waktu sisa delapan hari untuk menghadapi kematian, waktu satu jam saja, jika seandainya kematian itu diumumkan kepada saya, sudah pasti secepat kilat saya langsung memperpanjang sholat saya, memperbanyak istighfar, dzikir, mengeluarkan semua harta untuk disedekahkan, diwakafkan, meminta maaf pada orang yang pernah saya sakiti. Melunasi utang-utang saya, puasa saya, dan janji saya. Membaca Al-Qur’an sampai khatam dan berdiam diri didalam masjid. Banyakin shalawatan juga.

Nah, Masih berangan-angan mau keliling kota dalam negeri atau jalan-jalan keluar negeri? Membeli baju beragam mode dan warna, hape, sepatu dan tas bermerk? Jika diminta memilih, sudah pasti saya tidak ngiler lagi. Boro-boro mau belanja-belinji, happy hura-hura, toh, sang Malaikat Maut udah nongol duluan didepan pintu. Astaghfirulloh. Yuk, ah, banyakin taubat nasuhahnya.

اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ اْلأَمَلِ


“Ingatlah mati niscaya kau akan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.” 

Namun, biarpun seperti itu, jadwal kematian kita tetaplah dirahasiakan Allah swt. Ultimatum terbesar sebagai peringatan terakhir buat kehidupan kita didunia ini akan hadirnya malaikat maut, tentu saja membuat bulu roma merinding, jantung berdebar kencang sekencang-kencangnya, nafas tidak beraturan, muka pucat pasi, sekujur badan langsung dingin menggigil. Entah apa lagi yang kita bakal dirasakan. Jangankan delapan hari, beberapa kisah menjelang kematian kerabat yang saya dengar, bahkan ada yang sudah merasakan firasat aneh detik-detik menjelang kematiannya dalam jangka waktu sebulan hingga tiga bulan sebelum hari H.

Bagi keluarga yang ditinggalkan sedikitpun tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah sinyal terakhir yang diberikan calon almarhum. Kejadiannya bahkan sepele sekali, ada yang secara tiba-tiba memberikan cincin batu kesayangannya sambil menitip pesan sebagai kenang-kenangan terakhir, ada yang memesan kain ihramnya, ada berpesan kepada istrinya untuk menjaga anak-anak, menjadikan mereka sebagai penghafal Qur’an, mengisyaratkan sang istri tercinta untuk menikah lagi, ada pula yang masih sempat memesan nasi uduk atau makanan favoritnya tapi tak juga dihabiskan karena malaikat maut sudah mencabutnya ruhnya.

Sekitar sebulan lalu, pemilik masjid dekat rumah saya pun berniat membangun pekuburan keluarga khusus tim Yayasan Pondok Tahfizh Qur’an yang didirikan dengan tujuan mengistimewakan dan mengenang amalan dan dedikasi para pengurusnya jika suatu hari nanti akan dipanggil Allah swt. Berasa geli namun serius, kematian belum menjemput, tapi mereka sudah menyiapkan pekuburan khusus sekitar 1 hektar tanah kosong secara patungan. Masya Allah, iman akan takdir kematian benar-benar memotivasi kita untuk selalu mawas diri, menghindari kemaksiatan, dan meningkatkan amalan ibadah. Pertanyaannya adalah siapa yang mau duluan ngisi tanah kosong kuburan itu nantinya? Bikin mau ketawa dan nangis.

Sebagai penguat iman dan motivasi amalan ibadah didunia menuju Alam Barzakh, mari simak dan mentadabburi beberapa dalil tentang kematian berikut ini:

Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia beserta isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Allah swt berfirman dan Q.S. Al-Anbiya ayat 35:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ 

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)


Kematian tidak mengenal status sosial, jabatan, kaya miskin, suku bangsa, dan warna kulit. Melainkan dengan amal perbuatan amal selama hidup didunia. 


أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ


"Dimana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Karena setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya masing-masing, terkhusus kita sebagai manusia biasa yang tidak luput dari lupa, salah, dan kekurangan lainnya.


كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ


“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal)” (Ar-Rahman: 26)


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ


“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.


Maka dari itu, mari mengingat mati demi melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:


أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ


"Perbanyaklah kalian mengingat pemutus segala kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)


Tidak ada maksud menggurui dalam tulisan ini. Saya menulis tentang kematian seperti ini juga tak terlepas dari segala kekurangan dan saya berupaya menjadikannya sebagai nasehat pribadi. Jika sekiranya tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi pembaca, moga dapat menambah nilai amalan jariyah diakhirat kelak. Aaamiin. Saya merasa menulis tema tentang kematian tidak akan pernah cukup dituliskan disini karena masih banyak sekali yang tak sempat dituangkan dalam wadah ini. Tentunya, harapan kedepan bisa lebih dikembangkan dan diperbaiki seperlunya. Sungguh, kematian itu sangat indah, sama sekali tidak menakutkan. Maka mari berbenah diri, dirikan sholat wajib dan sunnah, banyakin sedekah, puasa sunnah, do’a terus kepada Allah swt, dan membaca/ mengamalkan/ atau menghafal A-Qu’ran detik ini juga. Baik buruknya cara kita meninggal, semuanya tergantung baik buruknya amal perbuatan kita selama ini.  "Perbaikilah sholatmu, seolah-olah besok kamu akan meninggal". [AAF]

Wassalam

Makassar, 28 Maret 2016


18 komentar:

  1. Semoga senantiasa dalam kebaikan hingga kematian menjemput ya Aida

    BalasHapus
  2. Semoga kita semua husnul khatimah... Amiiinnn

    BalasHapus
  3. iya, smoga kita semua khusnul khatimah, amin

    BalasHapus
  4. saling mengingatkan tentang kematian -_-

    BalasHapus
  5. kematian memang misteri
    semoga selalu siap

    BalasHapus
  6. Insyaallah, semoga bisa khusnul khatimah ya mbak. Amin
    Sukses utk GA nya mbak ^_^

    BalasHapus
  7. semoga kita semua husnul khatimah :(

    BalasHapus
  8. Semoga kelak kita bisa menikmati indahnya kematian

    BalasHapus
  9. Terimakasih tulisannya Mba Aida, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus
  10. Semoga kita semua dipanggil oleh sang pencipta dalam keadaan khusnul khotimah ..
    Amiin

    BalasHapus
  11. Diingatkan akan kematian ya Allah rasanya banyak dosaa

    BalasHapus