Minggu, 26 Januari 2014

Bahagia itu Ketika Kita Menjadi Diri Sendiri

Dimana-mana yang namanya bahagia itu pasti definisinya senang dan berbunga-bunga. Tapi untuk mendapatkan rasa bahagia tak bisa dibeli dengan nominal uang atau materi lainnya. Segudang berlian dan mutiara pun tak tertandingi dengan nilai tinggi dari si bahagia ini. Sejatinya, bahagia tercipta dari pola hidup, akhlak, sikap, perkataan yang baik dan memberi manfaat bagi si pemiliknya secara universal. Bahagia tak bisa dilihat pada satu sisi saja. Misalnya, seseorang dikatakan sangat bahagia ketika ia sudah memiliki istri cantik, suami ganteng, harta yang melimpah, jabatan tinggi, mobil ber-merk internasional, atau punya gadget yang sebenarnya tidak terlalu penting baginya. Terkadang kebanyakan orang melihat pada kulit luarnya saja. Lupa dengan seluk beluk dari kesehariannya ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, bahkan lebih gawat lagi jika hubungan sama sang Penciptanya tidak masuk daftar rutinitas sehari-harinya. Jangan sampai ya. Na'udzubillah min Dzalik. Amin.

Bicara bahagia sebenarnya sangatlah sederhana dan simple. Cukup dengan banyak bersyukur dan menjadi diri sendiri dalam segala hal. Tidak perlu repot dengan urusan-urusan yang banyak menguras tenaga dan pikiran jika tujuan akhirnya hanya membawa penyakit hati bagi orang lain, merugikan pihak lain, dan sebagainya. Kalau aku pribadi sih mikirnya seperti itu. Hidup ini janganlah dibuat susah situasi dan keadaannya, toh! Allah sudah menyiapkan semua apa yang kita butuhkan di dunia ini sebagai ladang amal buat bekal di akhirat kelak. Semuanya sudah diatur dan disediakan. Sebagai manusia biasa, seyogyanya kita pandai-pandai saja mensyukuri segala apa yang telah Allah berikan kepada kita. Kalau mau dijelasin satu per satu urutan masalahnya disini panjang banget, aku-nya punya jari bisa nyut-nyut bin puyeng juga. Aku yakin, semua sudah paham yang aku maksud, selebihnya mau menciptakan rasa bahagia itu dari dalam diri sendiri atau menunggu kebahagiaan dari orang tersayang. wah ! kelamaan nantinya keburu udah jadi nenek-nenek. hehehehe just kidding :)

Jika mau dikata, aku paling sering memutar balik moment hidupku kebelakang, bukannya meratapi kesedihan dan kegalauan hati yang telah kurasakan di jaman dulu, namun aku jadikan sebagai catatan hitam putih kehidupanku. Aku yakin tidak sedikit diantara kita hampir bernasib sama dimasa yang lalu. Suka duka, senang sedih, gagal dan berhasil semuanya sudah terlewatkan walaupun masa-masa itu masih terjadi sepanjang hidupku saat ini. Ini lah kodrat hidup. Kita tak bisa berpaling dan lari sekencang-kencangnya menjauh darinya. Tantangan dan cobaan itu mau tidak mau harus dihadapi. Lebih tepatnya, kenyataan tak terduga.

Aku paling teringat ketika duduk di bangku Aliyah, aku sering disanjung-sanjung oleh beberapa teman dan guru disekolahku dengan rangking satu sampai tiga yang kuraih setiap akhir ujian sekolah. Bahagia? senang ? itu sudah pasti, tapi selalu saja aku merasa sangat kurang dan tak pantas mendapatkannya karena nilai-nilai itu tak seimbang dengan ilmu yang kudapatkan. Hanya sekedar nilai rapor semata. Tak lebih. Mungkin lebih tepatnya aku sangat beruntung saja bisa jadi juara kelas. 

Pada kenyataannya, aku tak bisa bersaing dalam setiap lomba antar sekolah. Tahu kenapa? karena aku tak pernah di utus pihak sekolah karena sudah mengetahui kekurangan dan kelemahan yang kumiliki. Kecewa dan malu.

Selepas itu semua, aku tak mau lagi menunjukkan pada orang lain bahwa nilai materi yang kudapatkan tak seperti apa yang ada dipikiran orang awam. Aku tak bisa menjadi anak yang dipuja dan disanjung menurut kehendak mereka demi popularitas lembaga tertentu. Bahkan keluarga sendiri sangat bangga dengan prestasi semacam itu. Rasanya aku tersiksa dengan seribu pujian yang tak terbukti pada hasil nyata yang sebenarnya.  

Aku ingin menjadi diriku sendiri yang pada dasarnya mampu mengubah pola hidupku lebih baik dari sebelumnya. Mendengar dan membaca keadaan disekelilingku segera kumasukkan dalam urutan pertama yang harus kujaga baik-baik. Karena dengan mendengar dan membaca situasi dan keadaan, aku bisa lebih peka untuk memulai langkah baru menuju satu tujuan yang lebih membahagiakan pastinya. Tak ingin ku tergesa-gesa mengambil satu keputusan. Tak ingin diriku ceroboh dan keliru lagi yang pada akhirnya membuatku terjatuh dan tenggelam dengan sikapku sendiri. Pengalaman pahit itu sudah kurasakan tanpa kusangka tapi firasat buruk masih bisa kurasakan sebelum kejadian terjadi. uh!

Rasa bahagia letaknya di hati. Hanya dengan hati yang suci, tulus, ikhlas, dan damai yang bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Bahagia tanpa batas, tanpa memandang si kaya dan si miskin, si cantik dan si buruk rupa, si pintar dan si bodoh, dan siapa-siapa yang lain sebagainya. Aku tak bisa bercerita panjang lebar dengan melukiskan sepenggal kisah nyata di sini. Karena aku sendiri tidak tahu arah kemana ujung pembicaraan si bahagia ini. Hanya dengan ucapan selamat berbahagia untukmu sahabat, semoga kebahagiaan ini mampu menebarkan aroma bahagia di atas segalanya. Karena dengan bahagia, duri-duri tajam sekalipun takkan kau rasakan perihnya mengiris telapak kakimu di setiap tanjakan. 

Akhir kata, 

Aku bahagia menuliskannya untukmu, agar kelak kau bisa menjadi teladan paling pertama bahagia di lingkunganmu sendiri,  dengan begitu pelan-pelan kau tebarkan senyum bahagia pada siapa saja dipelosok nusantara secara meluas.

Jadilah dirimu sendiri, maka kau pun akan bahagia !

Please say, i am happy with you forever ... !


                           

BACA SELENGKAPNYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar