Rabu, 27 Agustus 2014

Perkembangan Buku Anak-Anak dari Masa ke Masa

Buku Cerita Anak Milik Sendiri (Doc. Pribadi)
"Horeee... Ade Aida dibeliin Mama buku Dongeng" 
"Nah, karena Ade sudah punya buku Dongeng, besok-besok sekolahnya tambah rajin, ya, Nak. Ngajinya juga harus tiap hari, dan uang jajannyaaa... ditambahin nggak yaaa... hehehe :D"

Setiap anak, jika dibeliin sesuatu yang selama ini diimpikannya, pasti merasa bahagia dan senangnya luar biasa. Anak-anak memang masih butuh pancingan untuk bisa berubah dari malas menjadi rajin, dari pesimis hingga menjadi semangat. Ya, namanya juga anak-anak, Mak. Apa-apa pasti harus dipenuhi, tapi sebagai orang tua yang cerdas dan bijak, segala sesuatunya harus dibatasi demi kebaikan dan perkembangan pola hidup si anak itu sendiri. Orang tua tidak salah dalam memanjakan anak, menyediakan permainan kesukaannya, membelikan pakaian, peralatan sekolah, dan lain-lain sebagainya. 

Saya dan Emak-Emak diluar sana pasti pernah merasakan masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan bersama teman-teman sepermainan,  selalu ingin tahu banyak, belajar bersama teman, dan membaca buku-buku cerita atau dongeng di rumah sendiri maupun ditetangga sebelah sewaktu kecil dahulu. Dunia kanak-kanak memang sangat menyenangkan, dimana, semua hal yang baru didengar dan dilihat selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk diketahui asal muasalnya. 

Tak jarang pula dari apa yang didengar dan dilihatnya tersebut, anak-anak lebih cenderung menirukannya tanpa harus mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk ditiru. Belum lagi jika anak-anak sudah terpengaruh dengan pergaulan yang keliru dan salah, tata krama yang tidak lagi terjaga, cara berbicara yang tidak terkontrol, hingga menyaksikan tontonan di telivisi yang sama sekali kurang mendidik dan tidak pantas.

Masa kanak-kanak bagi saya merupakan masa-masa berpetualang di alam terbuka. Masih hangat diingatan, kala itu saya melihat teman sedang asyik bersepeda, saya pun ikut berlatih mengayuh sepeda sendiri, saat mama membersihkan halaman rumah, hati saya merasa terpanggil untuk menjaga kebersihan lingkungan, saat kakak sedang membaca buku cerita atau dongeng di teras rumah, saya semakin penasaran tentang hal apakah yang dibaca sang kakak selama berjam-jam itu.

Ketika Ayah memberiku selembar uang dan menyuruhku ke toko untuk membeli sebungkus kopi dan permen, secara tidak langsung, ternyata Ayah ingin melatih saya belajar berhitung. Dalam hal ibadah, keluarga di rumah tak pernah absen untuk selalu mengingatkan dengan beragam nasehat berbau realigi jika telah berbuat salah. Semua kenangan manis di masa kecil tersebut adalah moment terindah yang pernah saya alami dan membawa pengaruh besar hingga diusia dewasa sekarang ini.

Bocah-Bocah si Petualang dari Negeri Dongeng

     

 
Adakah diantara kalian yang pernah mendengar dan membaca kisah dari cerita petualangan si bocah Lima Sekawan seperti yang tergambar pada cover buku di atas? Jujur saja, saya lupa-lupa ingat apakah saya pernah membacanya atau belum. Yang jelas, menurut dari berbagai sumber yang saya search di mbah Google, buku Lima Sekawan ini merupakan buku cerita fiksi anak-anak yang berkisah tentang eratnya hubungan perkawanan diantara mereka dalam mengarungi sebuah pulau terpencil demi melakukan ekpedisi pencarian harta karun bersama seekor anjing kesayangan mereka bernama Timmy.  Adapun empat bocah cilik tersebut adalah Julian, Dick, Anne, dan George. Mereka berlima selalu bersatu, bersama dalam suka dan duka melakukan perjalanan penuh misteri tanpa ditemani oleh orang tua mereka. Sungguh bocah-bocah cilik yang pemberani, cerdas, lincah, dan setia kawan. 


Enid Blyton asal Inggris, begitulah nama penulis buku ini. Namanya mendunia dan melegenda karena pada awalnya, beliau hanya menuliskan 6 sampai 8 buku cerita Lima Sekawan, namun karena tingginya angka penjualan dan antusiasme pembaca, maka seri bukunya berkembang sampai 21 buku. Sejak akhir 1953 lebih dari 6 juta copy telah dicetak ulang di Inggris. Sampai sekarang lebih dari 2 juta copy terjual setiap tahunnya, membuatnya menjadi salah satu buku anak-anak yang paling laris di dunia. Enid Blyton yang meninggal pada tahun 1968, menulis hingga 800-an judul buku. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam 90 bahasa dan terjual lebih dari 600 juta kopi di seluruh dunia. Tentunya termasuk di Indonesia. Buku Blyton terjual hampir delapan juta kopi antara tahun 2000 dan 2010 dan Blyton menjadi penulis Inggris yang paling dicintai di Costa Book Awards 2008.

Buku anak-anak memang salah satu fasilitas penting dan utama dalam yang sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak usia 6 tahun sampai 12 tahun. Karena dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka saya sendiri lebih senang dan suka sekali dengan buku cerita anak yang berwarna cerah, bergambar lucu dan jelas, didalamnya ada unsur bermain sambil belajar. Baik seputar ilmu pengetahuan umum maupun ilmu dasar-dasar agama Islam.

 Fakta Perkembangan Buku Anak-Anak

Menurut definisi Asosiasi Perpustakaan Amerika, buku anak adalah buku yang sesuai dengan tingkat kemampuan membaca dan minat anak-anak dari kelompok umur tertentu atau tingkatan pendidikan, mulai prasekolah hingga kelas enam sekolah dasar. Kategori buku dapat dikelompokkan kedalam bagian buku karton tebal (board book), buku lagu anak, buku mengenal alfabet, belajar berhitung, buku bergambar untuk belajar membaca, buku bergambar untuk belajar konsep (picture book), dan buku cerita bergambar (picture story book).
Pada Februari lalu, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) melansir data Toko Buku Gramedia, jaringan toko buku terbesar di Indonesia, yang menunjukkan, angka penjualan buku anak selama 2012 dan 2013 menduduki tempat tertinggi di antara jenis buku lainnya. Buku anak menjadi buku terlaris, meski buku-buku itu hampir tak pernah terpajang di rak khusus buku terlaris di bagian depan toko buku.
Salah satu fakta yang sedang booming dibidang penerbitan dan perbukuan tingkat anak-anak di Indonesia adalah baru-baru ini sebuah mahakarya dari penulis cilik digabungkan dalam buku seri "Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK)" yang diterbitkan DAR! Mizan, mendapat apresiasi luar biasa karena salah satu lini penerbitan buku Grup Mizan, tercatat penjualannya mencapai sekitar 15 persen dari seluruh penjualan buku toko itu. “Dalam sehari bisa sepuluh sampai lima belas anak mencari buku KKPK"

Buku seri KKPK banyak diserap pasar dan rata-rata setiap judul dicetak sama dengan buku dewasa, minimal empat ribu eksemplar. Hingga kini sudah terbit 300 lebih judul karya 50 penulis lebih. “Kami mengakui, ini era kejayaan buku anak di Indonesia yang ditulis penulis anak-anak,” kata Ramadhan selaku Manajer Lini Anak dan Balita Grup Mizan.

Disisi lain, menurut Mdh. Haikal, sang editor dari Mahda Books Indonesia, menilai KKPK sebagai masa kejayaan dan euforia tumbuhnya penulis anak di Indonesia. “KKPK hanya euforia. Ada kebanggaan karena penulisnya anak-anak. Secara pribadi, saya masih yakin anak-anak sekarang jarang baca dan lebih menyukai gadget atau komik."

Pernyataan-pernyataan menggembirakan diatas tidak lain adalah bentuk rasa bangga dan ucap syukur dari orang-orang yang serius mengurusi perkembangan bahan bacaan anak-anak yang hampir hilang ditelan bumi. Terlahirnya penulis-penulis cilik yang bermunculan kepermukaan dunia ini, lambat laun namun pasti telah melakukan perubahan terhadap perkembangan buku anak-anak yang ramai dengan warna-warni cerah dan gambar yang lucu, kaya ilmu pengetahuan yang beragam tema, serta bahasanya mudah dicerna. 

Sangat berbeda jauh jika kita ingin membandingkannya dengan buku-buku era 80-an dan 90-an. Yang dahulunya, buku anak-anak sangat terbatas, minim gambar dan warna, bahasa yang susah dipahami, dan lumayan membosankan. Kini tidak lagi, buku anak-anak semakin berkembang dan bernilai positif. Aman bagi anak, menyenangkan, kertas dan covernya yang berkualitas tinggi, bahkan cocok untuk semua umur 6-12 tahun. 

Kasus Buku Anak-Anak dan Harapan Orang Tua

Ditengah-tengah kejayaan atas perkembangan buku anak-anak, ternyata masih ada saja orang yang tak bertanggungjawab atas pembuatan buku anak-anak yang bertema sex layaknya buku orang dewasa. Parahnya lagi, kasus penyebaran buku pelajaran sekolah yang sudah "dikotori" tersebut sempat membuat orang tua siswa dan publik menjadi resah karena khawatir anak-anak mereka akan rusak masa depannya.

Syukurlah, kasus kejahatan terkait tersebut cepat tercium oleh pihak yang berwajib dan langsung diperiksa tindaklanjutnya. Buku-buku sekolah yang sudah "kotor" tersebut kemudian ditarik kembali dari edaran dan si pelaku dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya sesuai hukum yang berlaku.

Ah, mudah-mudahan saja tidak akan terulang lagi, karena anak-anak kita adalah generasi muda penerus bangsa, agama, dan negara. Kita wajib menjaga dan mendidik mereka dengan cara yang baik dan benar, agar kelak menjadi pemimpin yang bertanggungjawab, berakhlak mulia, dan cerdas pemikirannya. Bukankah, setiap perilaku baik atau buruk si anak adalah cerminan dari identitas orang tuanya sendiri, Mak? ~ Aida ~

 Referensi:
  1. http://www.tempo.co/read/news/2014/06/01/109581609/Masa-Berjayanya-Buku-Anak-dan-Penulis-Cilik
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Lima_Sekawan_%28seri%29
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Bacaan_anak


  4. http://media.kompasiana.com/buku/2013/12/09/buku-lima-sekawan-enid-blyton-dilarang-beredar-di-sebuah-sekolah-615048.html

http://syaamilquran.com/lomba-blog-pameranbukubdg2014-bersama-ikapi-jabar-dan-syaamil-quran.html


 ======
Artikel #2
Makassar, 27 Agustus 2014

































6 komentar:

  1. Anak2 jaman sekarang lebih bahagia ya krn merwka bisa mendptkan beragam jenis buku utk dibaca dan banyak dijual di toko buku. Beda dgn jamanku waktu SD, buku cerita anaknya temanya itu2 aja gak jauh2 dari kisah seorang puteri dan seorang pangeran. Kini buku cerita anak lebih dinamis dan mengangkat tema beragam serta menarik dibaca anak2.. Met ngontes smga sukses ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali yang Mak Rita paparkan tersebut. Zaman memang sudah berubah dan anak-anak pun ikut terpengaruh mengikuti arus karena lingkungan sekitarnya. Syukurlah, buku anak-anak jaman sekarang sudah mengalami peningkatan yang tak terduga, semoga anak-anak kita semakin mencintai buku dan gemar membaca :)) makasi ya mak do'anya. Love U.

      Hapus
  2. saya juga pengen nanti beliin buku2 cerita yang bermanfaat buat anak saya, tp diseleleksi dl, kuatir ada kasus kayak kemarin, ngerii :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak harus bener-bener selektif ya ... ayooo beli yang banyak untuk anak-anaknya mak Dame :))

      Hapus
  3. waahh seruan naek sepedaan dan bertualang emang mak hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi .... naik sepedanya cuman muter-muter dekat rumah doang mak,,, aseeek :D

      Hapus